KANONARA

Gaya prosa

Nada

Sikap penulis terhadap subjek dan pembacanya, dibangun dari diksi, sintaksis, dan detail: bagaimana narasi bersikap tentang apa yang dikatakannya.

Nada sebuah karya sastra "menyuarakan sikap atau perasaan penulis tentang subjek dan audiensnya". Nada dibangun kalimat demi kalimat, lewat diksi, sintaksis, citraan, detail yang dimasukkan atau dihilangkan, dan bahasa figuratif; tokoh yang sombong dibuat sombong oleh kata-kata seperti "surveyed" dan "snatching". Kebingungan klasiknya adalah dengan mood: mood adalah atmosfer yang dihasilkan karya di dalam pembaca, dibangkitkan lewat latar, tema, suara, dan nada bersama-sama, sedangkan nada adalah sikap yang berada di atas kalimat. Nada berkisar dari formal sampai jenaka, khidmat, ironis, atau mengancam, dan bisa bergeser sepanjang sebuah karya; kata itu sendiri dipinjam dari musik.

Bagi novelis, nada adalah keputusan register dengan kontrak pembaca yang melekat, dan keruntuhan yang tak direncanakan dari yang luhur ke yang sepele adalah bathos. Komponen stabil yang dipelajari pembaca untuk dikenali adalah suara penulis, yang dinilai kritik berdasarkan nada, gaya, dan kepribadian.

Sumber

Lihat juga